Pontianak, 18 November 2016
Selamat hari
jadi yang pertama, sayang!
Sejujurnya,
butuh waktu lama bagiku untuk merangkum setiap kenangan selama setahun ini
menjadi sebuah postingan yang terbatas oleh karakter. Mengingat setiap detik
yang kuhabiskan hanya berputar dan selalu tersia-sia di sekitarmu. Bagaimana
tidak, mulai dari berada di dalam universitas yang sama, fakultas yang sama,
program studi yang sama, bahkan kelas yang sama disetiap mata kuliah yang kita
ambil. Oh! Bahkan ketika duduk juga selalu bersebelahan. Lucunya tidak terasa
sudah tiga semester perkuliahan kita lewati. Mulai dari perang IPK, presentasi,
nilai UTS, hingga siapa yang sampai duluan ke toilet. Mengingatnya saja
membuatku salah tingkah sendiri.
Kamu ingat saat
semester satu? Kamu selalu menegurku karena aku sering kali mengerjakan tugas
satu hari sebelum tugas itu dikumpulkan, seolah-olah tugas yang dikerjakan
lebih awal akan mendapatkan nilai yang lebih baik. Akhirnya aku jengkel dan menantangmu
untuk menunjukkan IPK siapa yang lebih tinggi. Kamu mendapatkan IPK 3.4 saat
itu, sebuah nilai yang menurutku sangat hebat untuk orang yang kuliah sambil
bekerja berat. Namun sayang sekali kamu harus berakhir dengan meneraktirku tiket bioskop sesuai perjanjian kita karena
IPK-ku menyentuh angka 3.8 saat itu hahahahahahahahah! Aku puas sekali saat
itu. Aku tidak ingin menjatuhkanmu, aku hanya ingin kamu mulai percaya padaku,
bahwa aku tidak setega itu menyia-nyiakan masa mudaku untuk menua di kampus. Aku
bisa mengatasi tugas-tugasku dan mengontrol nilaiku. Kamu tidak perlu
mengkhawatirkan nilaiku lagi, karena aku yakin, diwaktumu yang sangat padat ini,
kamu punya banyak hal penting lain yang bisa dikerjakan, selain mengomeli aku
terus menerus haha.
Melanjutkan
cerita yang tadi, dan ingatkah kamu? Kamu pun bersumpah untuk membalas kekalahan
itu di semester berikutnya. Namun sayangnya IPK semester dua kita seri, sama-sama
mendapatkan nilai 3.6 saja di delapan mata kuliah yang kita ambil. Sayangnya
lagi kita harus berada di dua kelas yang berbeda, sehingga menurutku kurang
adil saja karena bertaruh namun dididik dan dinilai oleh dosen yang berbeda. Aku
jadi tidak bisa memenangkan tiket bioskop lagi huh. Meskipun kamu tetap sering
meneraktirku di banyak hal, hanya saja menurutku akan hampa rasanya jika tidak
ada event atau sesuatu yang terjadi
ketika kamu memberikan barang-barang itu. Tapi tetap saja, terima kasih banyak
untuk semuanya!
Aku tidak akan
menceritakan kisah-kisah romantis kita disini. Jadi kamu boleh kecewa sekarang
dan berhenti membacanya hahaha. Aku tidak akan menulis betapa seringnya kamu
mengantar-jemputku setiap hari, menemaniku membeli pembalut dan alat makeup, selalu datang ke rumahku ketika
semua pekerjaanmu sudah selesai, selalu berbincang dengan Mama soal banyak hal,
bahkan Mama yang menyuruhmu langsung untuk kesini ketika kamu mulai sibuk dan
tidak sempat kemari selama beberapa hari. Kamu juga orang pertama yang Mama
hubungi jika di rumahku sedang memasak banyak makanan dan Mama juga yang
langsung membungkuskannya untuk kamu bawa pulang lagi. Mama sendiri juga yang
memintamu untuk memasangkan gantungan baju yang kamu buat sendiri di kamarku, membantu
memasangkan lintasan gorden yang lepas, mengganti bohlam lampu, membantu memindahkan
barang ketika ada acara, dan sebenarnya masih banyak sekali hal lainnya. Aku
jadi bingung, kamu itu sebenarnya kekasih atau kakak laki-lakiku? Kenapa kamu akrab
sekali dengan Mama? Haha.
Meskipun Papa
terlihat kurang rela ketika pertama kali melihatku diantar-jemput olehmu karena
beliau harus menyadari bahwa putri kecilnya sudah memiliki sosok pangeran yang
akan menjaganya mulai sekarang. Tapi tetap saja Papa selalu memberikan kita
banyak makanan dan selalu menjamumu di rumahnya, bukan? Kamu juga selalu
memiliki percakapan ketika bertemu dengan Abangku, bahkan kamu juga akrab
dengan teman-temannya. Mungkin karena naluri alamiah anak laki-laki ya? Kamu
juga tidak keberatan ketika aku mengajakmu bermain bersama Snowy yang semakin
gendut dan Bray yang pemalu haha. Bulu mereka yang menempel di jaketmu tidak
membuatmu risih, kamu selalu menjawab bahwa hanya dengan sapuan tangan juga
akan hilang. Memang benar, namun sulit untuk menemukan lelaki yang sesabar dan
setulus dirimu ini, sayang.
Terima kasih.
Terima kasih
karena telah menjadikan setiap tanggal delapan belasku begitu menyenangkan
setahun belakangan ini. Terima kasih karena menjadi bagian terpenting di ulang
tahunku yang ke 19. Terima kasih karena telah datang dan menyatakan perasaan
untuk menjalani hubungan yang serius tepat setahun yang lalu. Terima kasih atas
semua waktu dan tenaga telah kamu korbankan selama ini. Terima kasih selalu
mendatangiku dikala perdebatan kita tidak akan selesai melalui pesan singkat.
Terima kasih karena selalu menenangkan dan memberikanku semangat. Terima kasih
karena selalu perduli, serta semua omel-omelanmu itu. Terima kasih karena mau
memperbaiki segala hal bersamaku. Terima kasih karena kamu selalu terbuka,
karena kamu selalu menunggu penjelasan, karena kamu tidak menyimpulkan semua
sendiri. Terima kasih karena telah mempercayaiku, karena selalu memberikanku
kesempatan untuk memperbaiki semuanya, karena kamu yakin aku yang terbaik
untukmu. Terima kasih. Terima kasih karena tetap disini meskipun kamu punya
pilihan untuk pergi.
Aku tidak bisa
menuliskan semuanya, ya ampun. Kenapa aku mulai merasa emosional. Perasaan ini
begitu abstrak. Ada senang, terharu, benci, marah, dan sedih disana. Tapi semua
itu bersimbiosa dan membentuk kenangan-kenangan dirimu yang selalu aku
rindukan. Aku rindu omelanmu, aku rindu wajah sinismu, aku rindu sikap
cemburumu, aku merindukan semuanya. Kita pernah berbeda pendapat, sering sekali
berbeda pendapat, kita akan mulai menjauh beberapa saat, tapi aku tidak pernah
keberatan karena aku tahu itu hanya sementara. Karena tempat pulangmu, pelarian
paling nyamanmu, dan segala alasan kenapa kamu ada di kota kecil ini hanya
satu, aku.
Aku bersyukur
atas pertemuan kita yang kurang ramah. Jika aku tidak mengejekmu kala itu
mungkin saja aku tidak pernah tertarik lebih jauh padamu. Aku senang kamu
memilihku di antara banyak pilihan wanita-wanita cantik yang ada di sekitarmu,
yang sudah terlebih dahulu dekat denganmu. Aku masih tidak percaya pria yang
tidak pernah aku lihat kala itu menjadi pria paling penting dalam hidup saat
ini. Terima kasih banyak, karena telah datang dan tidak pergi.
Semoga dihari
jadi kita yang pertama ini membuka jalan kita ke hari-hari penuh kasih sayang
berikutnya. Semoga kita semakin saling mengerti satu sama lain, saling
menyayangi, hingga kita wisuda dan melanjutkan S2 di luar negeri seperti yang
sudah kita rencanakan. Hingga kita lulus S2 dan mulai mencari kerja, hingga
kita menghasilkan uang sendiri dan mulai berumah tangga, memulai kisah yang
sama dibuku yang berbeda. Hingga kita terpisahkan oleh berhentinya detak
jantung kita. Tapi ingatlah, sayangku, Sultan Sahara, meskipun jantungku,
otakku, dan tubuhku mati, namun ingatanku selalu hidup di dalam dirimu, begitu
pun sebaliknya. Jadi bersiaplah, karena aku akan sangat menyusahkan hari-harimu
ke depannya, aku ingin kau memaafkanku dari sekarang hahaha.
Selamat hari
jadi yang pertama, sayang! Aku sangat menyayangimu...
Peluk cium
dari jauh,
Dolpino.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar