Mempunyai
kesempatan untuk melanjutkan jenjang pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi
tentu menjadi kebanggaan dan keberuntungan tersendiri, mengingat tingginya
biaya kuliah dan ketatnya seleksi masuk ke perguruan tinggi negeri. Orang-orang
yang berhasil menyandang nama mahasiswa pun seolah-olah diberi tempat khusus di
mata masyarakat.
“Oh! Inilah calon penerus bangsa kita!” kata mereka.
Dengan
memegang prinsip ‘pendidikan adalah investasi jangka panjang’ tentu kalimat
tersebut bukanlah ungkapan yang salah. Orang-orang yang memegang ijazah SMA
atau SMP bahkan SD sekalipun tidak menutup kemungkinan untuk bisa sukses dikemudian
hari. Namun dalam dunia kerja, memang, nama sarjana lebih dipertimbangkan
ketimbang lulusan SMA/SMK. Tapi tetap kembali lagi ke awal, tergantung pada yang
digantung, pekerjaan macam apakah itu? Selalu ada tempat dimana pengalaman dan
kemampuan lebih dipertimbangkan ketimbang beberapa angka di secarik kertas
bernama ijazah.
Oke, lanjut. Sebagai
salah satu orang yang menyandang nama ‘mahasiswa’, entah kenapa aku merasa
orang-orang seperti segan ketika berbicara denganku.
“Kamu lagi sibuk apa, dek? Kerjakah?”
“Aku kuliah, kak.”
“Oh! Kuliah dimana?”
“Di Untan, kak.”
“Oh! Jurusan apa?”
“Sosiologi, FISIP, kak.”
“Oh iya iya. Keponakan kakak juga ada yang kuliah di Untan.
Dari Sintang dia.” dan bla bla bla bla. Kemudian si Kakak pun
melanjutkan meng-creambath rambutku sembari
bercerita.
Namun nama
mahasiswa juga menjadi sebuah tanggung jawab bagiku. Tentu saja aku tidak mau
seseorang berkata “ah, masa mahasiswa kelakuannya
seperti itu” dengan nada mencela. “Katanya
mahasiswa?” dlsb.
Dengan nama
mahasiswa yang orang-orang sepertiku bawa, aku merasa sedikit beruntung. Tentu
dalam urusan melamar kerja, status mahasiswa ini akan menjadi pertimbangan
perusahaan, pikirku. Namun ternyata, ada cerita tersendiri di balik nama
mahasiswa dari sudut pandang dunia kerja paruh waktu.
Pengalaman ini
aku dapatkan ketika aku menemani pacarku melamar kerja ke banyak restoran. Ia
baru saja berhenti dari pekerjaan sebelumnya yang sudah ia jalani selama tiga
tahun, dan sekarang ia sedang memulai awal yang baru. Dengan rasa percaya diri
yang besar akan diterima bekerja, kami pun menaruh lamaran di tiga tempat
sekaligus. Bahkan malam harinya kami sudah mendiskusikan bagaimana jika ia
diterima diketiga tempat dan diminta datang untuk diwawancara sekaligus, mana
tempat yang akan dia pilih? Seperti itu.
Namun hasilnya
nihil. Sampai tiga hari ke depan kami tidak menerima panggilan satu pun. Kami
pun mencoba untuk berpikiran positif, mungkin lowongannya sudah terisi dan kami
terlambat mengantar lamaran tersebut.
Tidak putus
asa, kami pun kembali menaruh lamar, kali ini di dua tempat sekaligus.
Untungnya satu dari dua lamaran itu memberikan kesempatan. Schatz, pacarku, diterima
bekerja di salah satu restoran, sebut saja Restoran A+. Namun ia diminta untuk bersedia
di-training dulu selama seminggu dan
ia tidak keberatan.
Empat hari
bekerja dan ia bisa dibilang sudah bekerja dengan status koki, bukan lagi
sebagai pegawai baru yang masih di-training.
Keadaan Restoran A+ sangat santai saat sore hari, namun langsung mendadak sibuk
di malam hari hingga tengah malam setiap harinya. Setiap malamnya kurang lebih
delapan karung beras habis setiap harinya. Benar benar sibuk! Memasak jadi seperti
medan pertempuran saja.
Namun efek
dari jam kerja paruh waktu yang diambilnya mulai terasa. Sebenarnya ia
mendapatkan shift ketiga yaitu bekerja mulai dari jam 12 malam hingga jam 7
pagi, sedangkan jam 8 paginya Schatz harus kuliah. Bahkan saat hari pertama
bekerja, ia diminta harus sudah datang sejak jam 3 sore. Akhirnya setelah kurang
lebih selama seminggu bekerja ia pun mengundurkan diri. Dan kami mulai fokus
untuk mencari pekerjaan baru lagi.
Karena sempat
diterima di salah satu restoran terkenal, kami jadi semakin percaya diri untuk
melamar pekerjaan di tempat berikutnya.
Saat itu kami kembali
menaruh lamaran ke dua tempat secara bersamaan. Setelah dua hari kami lewati
tanpa panggilan, kami kembali menaruh lamaran di enam restoran sekaligus! Dan
sayangnya, tiga hari juga telahberlalu tanpa panggilan satu pun. Bahkan kami menunggu
hingga seminggu dan tetap tidak ada satu pun restoran yang memanggil.
Aku pun mulai
curiga. Apa yang menghambat diterimanya Schatz di restoran-restoran yang
membuka lowongan itu? Bukankah jika mereka sampai membuka lowongan berarti ada
tempat kosong yang harus diisi? Apa surat lamaran Schatz salah? Atau ada yang salah
dengan format daftar riwayat hidupnya? Apa karena ia laki-laki yang berambut
panjang? Aku harus memintanya untuk memotong rambut jika itu adalah alasannya karena situasi kali ini taruhannya adalah tidak bisa membayar SPP semester
depan.
Dan pertanyaan
itu pun muncul. ‘Padahal Schatz adalah
seorang mahasiswa, calon sarjana, kenapa ia malah sulit diterima kerja paruh
waktu?’. Memang ada beberapa tempat yang tidak menyediakan pilihan untuk bisa
bekerja hanya di shift sore saja. Jadi, apa
nama mahasiswa yang dibawa Schatz ini justru memberatkannya dalam mencari
kerja? Apa Schatz harus cuti kuliah untuk fokus bekerja dulu sekarang ini?
Akhirnya aku
mencoba melakukan penelitian yang konyol. Aku mulai mempelajari salah satu akun
lowongan kerja online yang ada di
jejaring sosial facebook. Disana aku mengamati bagaimana cara orang-orang yang mencari
pekerjaan dan bagaimana orang-orang yang menawarkan pekerjaan.
Setelah aku
simpulkan secara ajaib, rata-rata yang mencari pekerjaan di grup online ini adalah orang yang memegang
ijazah SD hingga SMA/SMK, bahkan ada yang tidak memiliki KTP dan beralasan jika
ijazahnya hilang. Sedikit dan jarang sekali yang mengatasnamakan mahasiswa.
Kemudian
ketika Schatz langsung menghubungi sang atasan ataupun orang yang
menaruh nomor telfonnya di situs online tersebut, aku
melihat perbedaan disaat Schatz belum menyebutkan bahwa dia masih
berstatus aktif kuliah dan sesudah menyebutkan masih berstatus aktif
kuliah. Ada beberapa kecanggungan yang terjadi dalam percakapan itu. Semua
percakapan dengan sang atasan kebanyakan bersifat antusias sebelum Schatz
mengatakan bahwa ia adalah mahasiswa aktif.
Mereka selalu mengawali wawancara
dengan pertanyaan ‘sudah bekerja berapa
lama sebagai koki? Di restoran mana saja? Pengalamannya pernah manyajikan menu
apa saja? Bisa masak makanan apa saja? Bisa ngga hidangan chinese, western, nusantara, hidangan Korea atau Jepang? Apa siap jika harus di tes atau training
terlebih dahulu?’. Selalu begitu, pertanyaan yang sama.
Dan pertanyaan
terakhir yang keluar adalah ‘sekarang sedang
sibuk apa?’ yang akan dijawab Schatz dengan kalimat ‘saya masih kuliah dari pagi hingga sore’. Kemudian percakapan ini berakhir
dengan sebuah kesunyian sejenak. Sangat terasa. Hanya saja Schatz terlalu takut
untuk menyadarinya.
Dan jawaban
terakhir dari Schatz itu selalu menuntunnya ke kalimat ‘oh oke, akan kami pertimbangkan. Nanti kamu akan kami hubungi lagi’.
Dan kami tidak akan menerima panggilan apapun setelah percakapan itu berakhir.
Selalu begitu, jawaban yang sama, akhir yang sama.
Aku pun
semakin yakin bahwa nama mahasiswa yang Schatz sandang menjadi pemberat dalam perjalanannya
mencari pekerjaan paruh waktu di restoran. Lalu aku ingat bahwa aku mempunyai
teman saat SMA yang keluarganya mempunyai bisnis yang bergerak dalam bidang kuliner. Ia
sedang berdomisili di Bandung saat itu untuk melanjutkan kuliah disana. Aku pun
bertanya padanya via Line. Sebut saja dia Jonn. Aku pun mulai mengajukan
beberapa pertanyaan.
“Jonn, apakah bekerja di restoran itu benar-benar
menggunakan sistem shift?” karena sepengalamanku mencari pekerjaan bersama Schatz
selama sebulan ini, ketika Schatz mendaftar ke shift sore, kami berakhir dengan tidak menerima panggilan apapun
dari restoran terkait.
“Ada yang pakai, ada yang tidak. Tergantung
kebijakan tempatnya”. Jonn menjawab dengan sangat singkat dan padat. Maksudnya
disini adalah sistem shift itu pasti
ada karena manusia bukan robot yang bisa bekerja 16 jam tanpa henti, tapi tidak
semua restoran memberi kebebasan pada karyawannya untuk bisa memilih bekerja di shift pagi saja atau di shift sore saja. Jawaban yang cukup, dan
menimbulkan pertanyaan lain dalam benakku.
“Apakah status seorang pelamar sebagai
mahasiswa yang masih aktif kuliah akan menghambat kemungkinan pelamar untuk
diterima bekerja?” tanyaku lagi.
Dan jawabannya cukup mengejutkan.
Jonn menjawab, “ohh
benar sekali, Risgaan. Kemarin banyak juga mahasiswa yang kuliah sambil
bekerja di tempatku. Dan aku perhatikan hasil kerja mereka kurang efektif
dibanding karyawan yang benar-benar memiliki waktu free hanya untuk bekerja.
Jadi sekarang bukan hanya tempatku saja, restoran lain pun memiliki kemungkinan 50:50 untuk menerima mahasiswa yang masih aktif kuliah”.
“Oh ternyata seperti itu! Percayalah, aku sangat memahaminya, Jonn. Jadi, kira-kira
apa yang menyebabkan pekerjaan mereka kurang efektif? Apa karena mereka hanya
bisa menempati satu shift sehingga tidak bisa mengisi shift lain jika terjadi
berubahan jadwal kerja?”.
“Masalahnya ada pada waktu, Gan. Kegiatan
mahasiswa ‘kan tidak bisa kita bilang stabil waktunya. Terkadang ada kegiatan
mendadak, atau kehadirannya dibutuhkan di kampus ‘sebentar’, atau ada dosen yang
minta pindah jadwal/jam yang bergesekan dengan waktu kerja, dan
masih banyak lagi. Sedangkan kehadiran mahasiswa ini sangat dibutuhkan di
tempat kerjanya saat itu. Itulah kenapa restoran-restoran akan berfikir
berali-kali untuk menerima mahasiswa.”
Aku pun mulai
memahami penjelasannya. Karena selama Schatz bekerja di Restoran A+, dimana
keadaan restoran itu selalu ramai setiap malam harinya. Dan Schatz pernah tidak
hadir satu malam saja karena ada urusan kampus, hal itu berakibat pada kinerja
dan nama baik restoran tersebut. Sistem shift
menjadi kacau, harus ada pegawai shift
pagi yang datang menutup kekosongan tempat Schatz di shift malam. Jika tidak begitu, restoran akan kekurangan pegawai
dan usaha untuk melayani pelanggan tidak akan berjalan maksimal dan
berkemungkinan besar mendapat kritikan dari konsumen. Sebenarnya ketidakhadiran
Schatz tidak akan menjadi masalah besar jika terjadi di restoran kecil, karena
jika ada pemberitahuan sejak awal, sang pemimpin tentu bisa menangani hal
tersebut dengan langsung menempatkan bawahannya disana. Namun karena Restoran A+ adalah
restoran besar dan sangat sibuk pada malam hari, ketidakhadiran Schatz seolah
menjadi lubang pengganggu yang harus dilewati pegawai-pegawai lain sembari melayani palanggan sampai hari
itu selesai.
“Intinya adalah waktu”, Jonn
menambahkan. “Memang susah mencari orang
yang sepintar mahasiswa tapi memiliki waktu sebebas orang yang tidak kuliah. Masalahnya
bukan pada kebijakan restoran yang rumit atau pada mahasiswa yang waktunya tidak bisa diprediksi. Mahasiswa memiliki hak untuk kuliah dan bekerja sekaligus. Tapi
masalah sebenarnya ada pada kebutuhan konsumen, mereka adalah hal yang paling
diutamakan pihak restoran. Jadi usaha dan karyawan dari pihak restoran memang
dituntut untuk bekerja keras guna memuaskan konsumen.” jelasnya lagi.
Oh, ternyata
begitu. Jadi itulah kenapa di beberapa lowongan restoran membeberkan syarat ‘bisa
bekerja di bawah tekanan, mau bekerja sama, dan dapat bekerja dalam tim’, pikirku.
Kemudian aku mulai menjelaskan pada Jonn pengalamanku yang menemani Schatz melamar pekerjaan, dimana para atasan/pencari kerja langsung mundur ketika tahu jika Schatz adalah seorang mahasiswa.
Kemudian aku mulai menjelaskan pada Jonn pengalamanku yang menemani Schatz melamar pekerjaan, dimana para atasan/pencari kerja langsung mundur ketika tahu jika Schatz adalah seorang mahasiswa.
“Iya, dimana-mana memang begitu. Mereka sebenarnya
tahu jika mahasiswa itu terampil, tapi apakah waktunya siap dikorbankan untuk
bekerja atau tidak. Apa mereka siap jika ketika dosen meminta perpindahan waktu
kuliah dan itu bertabrakan dengan waktu kerja, mereka akan lebih memilih tetap
pergi bekerja? Itulah kenapa sebenarnya kuliah sambil bekerja itu merepotkan. Dan atasan-atasan pun mulai takut untuk mengambil mahasiswa. Ada istilah dalam
mempekerjakan mahasiswa yaitu gambling”.
Apa? Gambling?
Kenapa 'bertaruh'?? pikirku.
Ah yaa! 'Bertaruh'! Tentu saja.
Ah yaa! 'Bertaruh'! Tentu saja.
Kemudian aku berbagi
cerita kepada Jonn, tentang pengalaman Schatz yang dulu masih lebih mementingkan
kuliah dibanding bekerja, aku berharap itu akan menjadi pelajaran besar
baginya. Bahwa kuliah dan bekerja adalah dua hal yang berbeda dan tidak ada
yang boleh dianaktirikan. Jonn mengerti betul karena posisinya adalah adik dari
pemilik restoran.
Kemudian aku
mempromosikan Schatz padanya, karena, jujur, aku mulai putus asa. Aku khawatir Schatz tidak
akan mendapatkan pekerjaan dalam waktu dekat sedangkan tabungannya kian menipis.
Ternyata Jonn bisa membantu sedikit. Setelah memberikan kontak kakak
laki-lakinya padaku, ia memberitahu kakaknya jika akan ada temannya yang ingin
melamar pekerjaan di (sebut saja) JJ Resto & Cafe, restorannya. Dan sisanya
aku serahkan langsung ke Schatz.
Schatz bertanya panjang lebar via Line dengan pemilik JJ Resto & Cafe, Bang Jeff. Bang Jeff pun menjelaskan dengan panjang lebar. Diakhir kata, Bang Jeff mempertimbangkan Schatz karena kebetulan ada satu pegawai yang ingin resign, namun Schatz tetap harus menunggu karena kejelasannya masih belum pasti kapan. Akhirnya Schatz dan aku kembali menunggu kabar darinya.
Keesokan
harinya ternyata Schatz mendapat panggilan dari salah satu restoran yang pernah kami
datangi untuk menaruh lamaran, sebut saja Wine&Dine Resto, tipe restoran
yang menyediakan beraneka macam hidangan utama, hidangan pasta, nusantara, barat, makanan ringan,
beer dan berbagai macam minuman yang sungguh menarik mata. Restoran ini memiliki dua
lantai dimana lantai pertama bersifat kasual dan lantai kedua bernuansa Romantic Room, tipe lantai yang sangat
ramai pada malam hari. Dan tempat ini memiliki halaman parkir yang sangat luas. Letaknya juga berada di jalanan utama yang memiliki banyak pilihan tempat
kuliner. Keunggulan-keunggulannya ini menjadikannya sebagai tempat yang
diperhitungkan untuk disinggahi banyak pelanggan. Schatz diwawancarai langsung
oleh sang pemilik. Setelah melewati sesi tanya-jawab, ternyata ia diterima, dan
seperti biasa diminta untuk di-training
dulu selama seminggu guna pengenalan menu. Karena seperti yang kita tahu, beda restoran, beda cara memasak!
Diakhir sesi
sang pemilik sempat bercerita bahwa sebenarnya pernah ada beberapa mahasiswa
yang bekerja di tempatnya dan sekarang menghilang begitu saja. Mereka tidak
bisa diajak bekerja sama dan selalu menentang kebijakan yang sudah ditetapkan di
restoran tersebut. Misalnya seperti ketika membuat menu Spaghetti Bolognese
atau Nasi Goreng Ikan Asin, tahap pembuatannya adalah dari A-B-C-D-E. Namun
mereka mengerjakannya dari D-E-B-C-A. Memang hasilnya akan sama-sama menjadi
Nasi Goreng Ikan Asin, tapi pasti ada ciri khas yang disajikan dalam hidangan di
restoran tersebut, dan itu tidak bisa diganggu gugat.
“Dapur 'tu bukan ranah publik yang bisa dikritik! Mentang-mentang
mahasiswa jadi pengen nentang apa yang udah jadi kebijakan restoran. Kalo kita di masyarakat
oke oke ajalah ngeritik suatu sistem yang ada. Lha ini kan di restoran! Kita
tuh kerja sama orang, dan orang itu udah ada tata-caranya sendiri dalam ngejalanin restorannya.” Schatz mengungkapkan kekesalannya padaku hahaha. Aku
pun makin yakin jika mahasiswa punya sisi buruk yang tidak begitu disukai oleh
beberapa atasan di tempat kerja.
Selesai dari
Wine&Dine Resto, Schatz diminta untuk mulai bekerja besok. Kami pun pulang
dan mendiskusikan hal ini sebentar. Tapi ternyata Bang Jeff dari JJ Resto &
Cafe kembali menghubungi Schatz dan memberi kepastian jika tenaganya dibutuhkan
di JJ Resto & Cafe. Dan besok jika Schatz bisa, ia diminta untuk datang ke
lokasi untuk langsung bertatap muka. Schatz setuju. Jadi kami akan pergi ke JJ Resto & Cafe besok sore.
JJ Resto & Cafe juga mempunyai 2 lantai. Lantai dasar adalah restorannya dan lantai 2 lebih bergaya seperti cafe dengan live musik. Tempat yang nyaman dengan banyak pilihan menu.
Apa? Besok?
Tunggu
dulu!
Besok ‘kan Schatz sudah diminta untuk mulai bekerja di Wine&Dine
Resto!
Aku dan Schatz
pun berdebat sedikit. Aku memihak JJ Resto & Cafe karena aku memang pernah
beberapa kali kesana bersama teman-teman sekolahku untuk berkumpul bersama
Jonn (adik sang pemilik). Aku juga sempat beberapa kali mencicipi makanan dan minuman disana, tempatnya juga nyaman, pilihan menunya sangat sangat banyak sekali mulai dari hidangan nusantara hingga hidangan barat dan
lain sebagainya. Kami berperang argumen soal kelebihan dan kekurangan dari
masing-masing tempat, baik dari lokasi, wifi, jam kerja, gaji awal, hingga pertimbangannya jika bekerja disana dalam jangka panjang. Schatz sempat kekeuh untuk bertahan di
Wine&Dine Resto, namun akhirnya ia berpihak pada JJ Resto & Cafe dan
kembali menghubungi Bang Jeff. Aku tidak merasa menang karena ia akhirnya berubah pikiran dan mengambil saranku. Tapi aku tahu, tempat mana yang sangat cocok untuknya, karena aku sudah tinggal di kota ini selama 15 tahun (Schatz adalah pendatang dari pulau Jawa), dan yang paling penting adalah jam kerjanya tidak terlalu mengganggu waktu kuliah.
Besoknya, aku
dan Schatz langsung ke lokasi dan bertemu dengan Bang Jeff. Karena beliau bisa dibilang masih berjiwa, dan memang masih, muda, jadi wawancara yang dilakukan terkesan lebih santai dan hanya seperti
bertukar cerita saja.
Keputusan akhir pun dicapai. Schatz akan mulai bekerja di awal bulan Mei nanti, sekitar 5 hari lagi. Mungkin untuk memudahkan dalam perhitungan gaji atau bagaimana aku juga tidak tahu, begitulah kebijakan disana. Aku hanya berharap Schatz tidak akan berpindah tempat kerja lagi. Selain karena mencari pekerjaan (seperti koki) memang repot, tapi juga karena nilai ‘bekerja di satu tempat dalam waktu yang lama’ akan terlihat bagus dalam daftar riwayat pekerjaan.
Keputusan akhir pun dicapai. Schatz akan mulai bekerja di awal bulan Mei nanti, sekitar 5 hari lagi. Mungkin untuk memudahkan dalam perhitungan gaji atau bagaimana aku juga tidak tahu, begitulah kebijakan disana. Aku hanya berharap Schatz tidak akan berpindah tempat kerja lagi. Selain karena mencari pekerjaan (seperti koki) memang repot, tapi juga karena nilai ‘bekerja di satu tempat dalam waktu yang lama’ akan terlihat bagus dalam daftar riwayat pekerjaan.
Aku sangat berterima
kasih atas informasi dari Jonn dan bantuan dari Bang Jeff, karena mau mendengar
dan mengerti kondisi dan keadaan Schatz yang masih aktif kuliah. Tidak banyak restoran yang mau repot-repot
mewawancarai pelamar yang masih berstatus mahasiswa, mereka akan lebih memilih untuk
tidak menghubunginya sama sekali. Dan itu membuatku putus asa. Dan karenanya juga aku jadi
mendapatkan banyak pencerahan soal ‘nama mahasiswa di mata pemilik modal,
terutama dalam dunia kerja paruh waktu’.
Andai saja
para mahasiswa itu bisa menjaga nama ‘mahasiswa’ yang dibawanya. Tapi tentu
saja tidak semua mahasiswa seperti itu, tapi di lapangan faktanya memang, maaf, kebanyakan seperti itu. Kesulitannya adalah mahasiswa-mahasiswa yang benar-benar
membutuhkan pekerjaan paruh waktu jadi harus melewati masa yang sulit
dalam mencari pekerjaan.
Cerita ini hanya sedikit gambaran dari penelitian konyol yang aku lakukan selama sebulan lebih. Sebenarnya banyak sekali cerita-cerita yang diberikan para atasan restoran dan tempat kerja lainnya soal pandangan mereka terhadap mahasiswa dalam dunia kerja paruh waktu. Tapi tentu saja tidak semua mahasiswa seperti itu.
Pikiran-pikiran yang sudah kutampung selama itu mengantarkanku kepada jawaban 'apa yang harus aku lakukan untuk melewati masalah ini'. Dan itu menyenangkan.
Terima kasih sudah meluangkan waktumu untuk membaca tulisan yang tidak terlalu bagus ini hahaha. Sekian.
Ttd.
Risgaan
P.S.
Nama dan
tempat disamarkan untuk menjaga kepentingan umum. Terima kasih banyak kepada pihak-pihak yang sudah terlibat.